Salah satu cara mengetahui employee engagement dengan melakukan survei. Hasil dari survei tersebut mengindikasikan sisi fisik dan emosional karyawan, terutama bagaimana mereka dihargai dan termotivasi bekerja sehingga hal itu memengaruhi keterlibatannya dalam kegiatan perusahaan.
Tak hanya itu, hasil employee engagement survey memperlihatkan mana budaya perusahaan berkinerja tinggi dan budaya yang sedang mengalami kesulitan. Bagaimana dengan budaya perusahaan Anda?
Serba-serbi Employee Engagement
Definisi
Berdasarkan data Gallup tentang keterlibatan di tempat kerja, karyawan yang terlibat mendorong hasil bisnis yang lebih kuat di setiap industri, terlepas dari ukuran perusahaan atau kondisi ekonomi. Gallup tak hanya sekali meriset tentang employee engagement, tetapi perusahaan ini telah melakukannya beberapa dekade.
Nilai employee engagement akan meningkat ketika karyawan merasa terhubung dengan pekerjaan, dihargai hasil kerjanya oleh atasan, dan didukung oleh manajer. Lima faktor penting yang secara konsisten mendorong keterlibatan, yaitu:
- Purpose: melakukan pekerjaan yang terasa bermakna dan didorong oleh misi
- Development: memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang
- Manajer yang peduli: merasa didukung oleh seseorang yang benar-benar peduli
- Percakapan berkelanjutan: menerima umpan balik dan bimbingan secara konsisten
- Fokus pada kekuatan: memiliki dorongan untuk menggunakan apa yang dikuasai setiap hari
Siapa yang bertanggung jawab dalam employee engagement? Semua orang yang ada di perusahaan memiliki tanggung jawab masing-masing.
Pemimpin menetapkan standar dan menciptakan model keterlibatan. Manajer mewujudkan keterlibatan kepada karyawan setiap hari, yang menentukan keberhasilan atau kegagalan keterlibatan. Karyawan bertanggung jawab dan mengkomunikasikan kebutuhan keterlibatan mereka.
Dimulai dari mana?
Dengan kata lain, implementasi employee engagement yang efektif dimulai dari posisi pucuk di perusahaan.
Pemimpin atau jajaran eksekutif yang mendukung dan mampu berkomunikasi secara efektif kepada karyawan akan menjadi teladan. Pasalnya, ia dapat menciptakan kondisi bagi manajer dan karyawan untuk mengadopsi pola pikir dalam employee engagement.
Sayangnya, sebagian besar manajer tidak tahu bagaimana membuat percakapan yang bermakna dan sering melakukannya, sehingga tindakan mereka lebih cenderung ditafsirkan sebagai micromanaging tanpa memberikan arahan yang tepat.
Jadi, pemimpin tidak cukup sekadar menyuruh manajer bertanggung jawab atas keterlibatan dan melatih tim mereka. Pemimpin bekerja sama dengan tim HR perlu memastikan manajer mengetahui cara melibatkan karyawan melalui coaching conversations yang efektif.
Misalnya, ia tahu apa yang dikerjakan oleh anggota timnya, mendukung dan membela mereka jika diperlukan, menjelaskan bagaimana keterlibatan mereka di tempat kerja berhubungan dengan keberhasilan perusahaan.
Next: Perbedaan HRIS dan HRMS: Peran Keduanya Dalam Pengelolaan SDM
Empat Macam Employee Engagement yang Perlu Diperhatikan oleh Tim HR dan Pemimpin
Ada empat macam keterlibatan karyawan yang berbeda, di mana masing-masing memiliki perilaku berbeda. Apa saja empat macam keterlibatan tersebut:
1. Highly engaged
Karyawan highly engaged memiliki ciri-ciri bersemangat, berkomitmen, dan terinspirasi oleh pekerjaan mereka. Mereka bertindak sebagai pendukung jenama perusahaan, berbagi ide secara bebas, dan bekerja tak sekadar melakukan job description untuk membantu perusahaan sukses. Mereka percaya pada tujuan organisasi dan melihat peran mereka sebagai kunci untuk mencapainya.
2. Moderately engaged
Karyawan yang memiliki keterlibatan moderat akan menjadi kontributor yang dapat diandalkan dan umumnya merasa positif terhadap pekerjaan mereka. Mereka berkinerja baik, tetapi terkadang kurang antusias atau kurang memiliki pemahaman yang jelas tentang bagaimana upaya mereka terkait dengan gambaran yang lebih besar. Dengan bimbingan atau komunikasi yang lebih jelas, mereka memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi karyawan berkinerja terbaik.
3. Minimally engaged
Karyawan yang tergolong minimally engaged akan memenuhi ekspektasi pekerjaan, tetapi jarang melampauinya. Mereka cenderung memandang pekerjaan sebagai transaksi belaka, bukan sebagai sumber makna atau pertumbuhan. Meskipun tidak secara terang-terangan negatif, mereka sering kali tidak terlibat dengan tujuan perusahaan dan terkadang sedang mencari peluang lain.
4. Disengaged
Karyawan yang tidak terlibat merasa tidak puas dan terputus dari lingkungan kerja. Ada kemungkinan mereka menolak perubahan, menarik diri dari kolaborasi, atau menyebarkan hal negatif yang berdampak pada moral tim.
Mengidentifikasi kelompok ini sejak dini melalui employee engagement survey sangat penting untuk membangun kembali kepercayaan dan menjalin hubungan yang harmonis antara karyawan dan tujuan perusahaan.
Dengan memahami hasil survei dan kelompok keterlibatan ini, tim HR akan mudah membuat strategi employee engagement guna meningkatkan moral, motivasi, dan budaya tim.
Next: Retensi Karyawan: 5 Faktor & Contoh Programnya
Apa yang Diungkapkan oleh Survei tentang Budaya Perusahaan?
Melacak keterlibatan karyawan dari waktu ke waktu bermanfaat bagi perusahaan. Pasalnya, Anda dan tim akan mengetahui seberapa sehat budaya perusahaan dan efektivitas para pemimpinnya.
Dengan menggunakan employee engagement survey secara berkala, perusahaan dapat mengidentifikasi risiko yang muncul, mengungkap area kekuatan, dan fokus pada perubahan yang paling penting.
Kesalahan yang kerap dilakukan oleh perusahaan adalah melakukan program employee engagement secara intens dan waktu dilakukannya mendekati pelaksanaan survei. Memang, perusahaan wajib mendorong keterlibatan karyawan guna meningkatkan produktivitas, tetapi caranya tidak sesederhana itu.
Karyawan membutuhkan lebih dari sekadar perasaan senang saat menerima gaji, meski hal ini membantu mereka memberikan respons positif pada pertanyaan survei. Namun, yang paling penting adalah mendorong mereka berinvestasi dalam pekerjaan serta meningkatkan kinerja untuk mendukung tujuan perusahaan.
Memahami kondisi karyawan Anda saat ini akan menjadi langkah krusial untuk membangun budaya, di mana setiap orang merasa termotivasi, berkontribusi, dan bangga berada di perusahaan yang sama.
Pada dasarnya, seseorang menginginkan tujuan dan makna dari pekerjaannya. Ia ingin dikenal karena hal-hal yang membuatnya unik. Ia menginginkan manajer yang dapat membimbing ke tingkat selanjutnya. Inilah yang mendorong keterlibatan karyawan.
Ikuti informasi tentang pengelolaan sumber daya manusia sekaligus proses rekrutmen di laman ini.




