Masuk
4 Cara Mengurangi Tingkat Turnover dengan Melibatkan Manajer
Talent Management

4 Cara Mengurangi Tingkat Turnover dengan Melibatkan Manajer

7 Apr 2026, 03.02 UTC

4 menit baca


Peoplyee mengurangi tingkat turnover karyawan

Tingkat turnover tinggi berpengaruh terhadap produktivitas kerja, karena salah satu anggota yang keluar dapat membuat kinerja tim menjadi tidak seimbang. Padahal turnover tinggi bisa dicegah, selama manajer membangun percakapan yang tepat dengan karyawannya secara teratur. Percakapan ini tak melulu soal tugas yang harus mereka kerjakan, tetapi juga ketidakpuasan dan rencana karier ke depan.

Memahami Tingkat Turnover Karyawan

Dalam pengaturan profesional, tingkat turnover merupakan persentase karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan dalam periode waktu tertentu. Pengunduran diri ini dapat bersifat sukarela (karyawan resign) atau tidak dari kemauan sendiri (pemutusan hubungan kerja atau PHK).

Persentase tingkat turnover akan dihitung dengan membandingkan jumlah karyawan yang resign dengan jumlah rata-rata karyawan selama periode tersebut. Perusahaan dapat menghitung turnover rate dengan rumus di bawah ini: Karyawan yang keluar : [Jumlah karyawan awal + Jumlah karyawan akhir) : 2] x 100

Berdasarkan laporan Gallup pada Mei 2024, turnover yang meningkat dan kegagalan dalam retensi karyawan akan mengakibatkan perusahaan mengeluarkan bujet mahal di masa mendatang. Menurut catatan lembaga riset global, penggantian pemimpin dan manajer menghabiskan biaya sekitar 200%, penggantian profesional di bidang teknis memerlukan dana 80%, dan karyawan garis depan membutuhkan 40% dari gaji mereka.

Masih dari laporan yang sama, sebanyak 42% karyawan resign sukarela melaporkan bahwa manajer atau organisasi seharusnya dapat bertindak sesuatu untuk mencegah mereka meninggalkan pekerjaan. Apa penyebab mereka mengundurkan diri?

Next: Inilah 3 Metode Hitung Payroll Karyawan

Ini Alasan Karyawan Resign

Sebesar 77% karyawan meninggalkan pekerjaan mereka secara sukarela dalam waktu tiga bulan setelah mencari pekerjaan baru atau tidak secara aktif mencari pekerjaan baru sejak awal.

36% persen karyawan melaporkan tidak berbicara dengan siapa pun sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri. Bahkan 44% karyawan yang berniat mengundurkan diri enggan berbicara ke atasan langsung atau manajer sebelum resign. Mereka lebih mungkin berdiskusi dengan rekan kerja daripada dengan manajer.

Sebesar 45% dari mereka yang resign melaporkan, manajer maupun pemimpin lain tidak secara proaktif membahas kepuasan kerja, kinerja, atau masa depan mereka dengan organisasi dalam tiga bulan sebelum mengundurkan diri.

Untuk manajer atau pemimpin yang berinteraksi dengan karyawan dalam tiga bulan mereka resign menghasilkan:

  • 29% membahas masa depan karier
  • 28% berdiskusi tentang kepuasan kerja
  • 18% membicarakan hal kebutuhan pekerjaan agar efektif
  • 17% berunding tentang kebutuhan agar tetap bekerja di perusahaan
Di sisi lain, sebanyak 42% karyawan resign mengatakan kepergian mereka sebenarnya bisa dicegah dan 45% melaporkan bahwa dalam tiga bulan sebelum kepergian mereka hanya sedikit yang dilakukan oleh manajer atau pemimpin yang proaktif membahas tentang bagaimana pekerjaan mereka.

Dari laporan tersebut, Gallup menjelaskan bahwa pergantian karyawan dapat dicegah, jika manajer memulai percakapan yang tepat sebelum karyawannya memutuskan untuk keluar.

Next: Ketahui Jenis Cuti Kerja Untuk Karyawan

4 Cara Mengurangi Tingkat Turnover dengan Melibatkan Manajer

Apa yang bisa dilakukan oleh perusahaan untuk mengurangi tingkat turnover? Menjalankan program retensi karyawan sembari melibatkan manajer untuk berdiskusi serta merespons kebutuhan anggota timnya.

1. Kompensasi dan pertumbuhan karier

Kompensasi dan pertumbuhan karier (30%) merupakan penanda yang berkaitan erat tentang bagaimana karyawan dihargai dan bagaimana mereka berkembang di suatu organisasi (11%). Kompensasi cenderung menjadi persyaratan dasar untuk mempertahankan karyawan sekaligus sumber ketidakpuasan mereka.

Oleh sebab itu, manajer menilai kompensasi dan benefit di pasa kerja sembari menyesuaikannya dengan kinerja karyawan. Meskipun keputusan akhir kompensasi bukan di tangannya, tetapi manajer perlu membangun kepercayaan dan berdiskusi secara berkala tentang gaji, pekerjaan, rencana pengembangan, dan hal-hal yang dibutuhkan oleh anggota timnya untuk menumbuhkan karier. Tindakan manajer ini menunjukkan kepada karyawan bahwa mereka memiliki masa depan yang cerah untuk dijalani di perusahaan.

2. Perkuat hubungan manajer dan karyawan

Upaya untuk mencegah tingkat turnover karyawan berikutnya adalah memperkuat hubungan antara manajer dan karyawan. Ketika manajer melakukan percakapan bermakna setiap minggu dengan setiap anggota timnya, karyawan empat kali lebih mungkin untuk memiliki keterlibatan yang tinggi, terlepas dari status kepegawaiannya.

Riset Gallup menunjukkan bahwa percakapan ini lebih bermakna ketika berfokus pada tujuan dan prioritas, penghargaan atas pekerjaan terbaru, kolaborasi, dan pemanfaatan kekuatan karyawan. Percakapan ini tak membutuhkan waktu lama, hanya 15 hingga 30 menit.

3. Hapus hambatan

Saat manajer tidak menangani masalah, masalah tersebut akan menjadi hambatan bagi kinerja perusahaan dan retensi karyawan. Jadi, tim HR perlu mendorong manajer untuk segera mengidentifikasi titik gesekan, seperti masalah antar rekan kerja, beban kerja, atau jadwal

Kerja tak teratur. Selanjutnya, manajer juga harus membahas bagaimana masalah tersebut memengaruhi karyawan dan mengklarifikasi peran mereka dalam mengatasinya. Jika tidak ditangani, karyawan cenderung mengalami frustrasi yang berpengaruh terhadap masalah alur kerja sehingga menyebabkan kelelahan.

4. Latih manajer

Mengingat manajer berperan penting dalam melibatkan karyawan dan mencegah turnover, maka perusahaan perlu melatih mereka agar mampu menjalankan dialog proaktif yang berkelanjutan dan bermakna tentang isu-isu yang paling memengaruhi kepuasan kerja, performa, dan masa depan karyawan.

Jika manajer menunggu karyawan untuk mengajaknya berdiskusi, kemungkinan besar hal itu tidak terjadi. Manajer harus berinisiatif membangun komunikasi dengan karyawan guna mencegah peningkatan turnover sekaligus mengupayakan keterlibatan tim.

Salah satu hal yang memprediksi tingkat turnover ialah melihat data presensi karyawan. Apa hubungannya?

Karyawan yang sering izin sakit, terlambat, atau tidak hadir tanpa alasan menjadi indikator ia sedang dalam kondisi tidak baik. Hal ini bisa Anda cegah agar ia tak segera mengundurkan diri.

Untuk memudahkan pemantauan, gunakan sistem kehadiran karyawan seperti Peoplyee HRIS. Sistem ini memiliki keamanan database sekaligus layanan pelanggan responsif. Tentukan jadwal trial perusahaan Anda secara gratis guna memahami sistemnya.

Bagikan
CTA Banner

Modernisasi HR Anda dengan sistem yang digunakan oleh perusahaan multinasional di Indonesia

Peoplyee HRIS by PT Peoplyee Tech Indonesia

Graha Binakarsa, Unit B-C, 15th Floor. Jl. H. R. Rasuna Said Kav C-18, RT.2 RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940

© 2024 - PT Peoplyee Tech Indonesia